PARA PENGIKUT KEBISUAN

“Perjuangan mahasiswa bukan sekadar menurunkan harga bensin, tapi juga menegakkan keadilan dan kejujuran. Jika mahasiswa mundur dalam pergulatan sekarang, makan akan kalah selama-lamanya.” – Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 13 Januari 1966.

Kutipan Gie di atas menghantui jiwa raga saya.

Kutipan Gie itu mampu membuat saya tidak bisa tidur semalaman dan seharian merenung lalu membuka laptop mini saya untuk menulis ini. 

Setelah habis masa jabatan saya di sebuah media kampus—selama tiga tahun mengabdi—saya masih merasa belum cukup. Belum cukup untuk menghilangkan dahaga saya berbicara tentang kejujuran dan keadilan. Terngiangnya kutipan itu di kepala saya, mungkin karena saya setuju dengan Gie.

Di masa sekarang, peran pers mahasiswa tak lagi bisa disamakan dengan pers mahasiswa zaman orde lama atau orde baru yang harus mendompleng pemerintahan secara gamblang. Hal ini disebabkan peran pers mainstream sudah kembali menguat dan makin banyak digandrungi. Akan tetapi, saya merasa peran pers mahasiswa masih harus terus kuat seperti dulu. Bukan kuat untuk bersaing dengan pers mainstream mengawasi pemerintah, melainkan kuat untuk berdiri di kaki mereka sendiri. Kuat seperti ini yang tak lagi saya lihat di pers mahasiswa saat ini.

Sebagai contoh, mantan pers mahasiswa yang saya geluti selama tiga tahun, semakin lama makin mundur. Mundur dalam kekritisan. Mereka tidak kehilangan skill menulis, tapi kehilangan jati diri di mana seharusnya menjadi mata, telinga, dan corong mahasiswa. Mengkritisi kampus sendiri itu bukan tirani. Diam dan tak peduli lah yang menjadi tirani. Terlebih lagi dilakukan oleh pers mahasiswa. Melontarkan pujian di dalam tulisan bukan hal yang buruk atau disalahkan dalam dunia jurnalistik. Namun mungkin itu akan menyamarkan identitas pers mahasiswa itu sendiri.

Pers secara umum tidak diperbolehkan untuk memilih atau berpihak, walaupun itu hal yang mustahil, tetapi harus dipegang teguh. Peran para editor tulisan itu penting sekali. Perannya untuk mengontrol dan menegaskan arah medianya seperti apa. Jika komandannya sudah oleng, kapalnya pun ikutan oleng.

Soe Hok Gie mengajarkan saya mengenai peran mahasiswa yang wajib bersuara, berani, dan kritis, tanpa bergabung sebagai anggota partai politik manapun dalam satu malam. Saya setuju dengan bagian, mahasiswa itu wajib bersuara, berani, dan kritis. Itu hal pokok yang bisa saya pelajari. It’s a highlight. Namun, tidak berpolitik di masa sekarang itu hal yang mustahil. Saya menulis ini karena ada unsur politik saya agar kalian terlena dan ikut geram. Politik itu mampu mengubah opini seseorang. Bergabung atau berdirinya pers mahasiswa itu juga salah satu partai politik, di mana memiliki visi dan misi sendiri.

Kalau ingat perjuangan Gie dan teman-temannya, kenyataan sekarang miris. Memang masih banyak mahasiswa yang ikut berdemo, tapi mereka bisa dilabelkan sebagai partisan. Demo memang salah satu aksi bagus dari mahasiswa. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak rajin ikut berjejer di depan istana berteriak protes? Saya merasa sedih dengan ini. Masih banyak mahasiswa yang tidak melakukannya. Saya bukan mengajak mahasiswa untuk berbondong-bondong ikut berdemo. Saya hanya ingin mahasiswa bersikap kritis sebagaimana semestinya.

Keberadaan pers mahasiswa inilah yang menjadi sangat penting. Selain itu, pers mahasiswa menjadi satu-satunya dan tempat mahasiswa di kampus mengeluh. Kenapa? Badan eksekutif di kampus sudah tak bisa diandalkan. Mereka beralih fungsi sebagai boneka birokrasi kampus atau badan pengelola acara kampus. Disfungsi badan eksekutif inilah yang membuat mahasiswa kehilangan arah mengadu. Maka dari itu pers mahasiswa harus lebih kuat dari itu. Sayangnya… saya kehilangan angan-angan itu.

Pers mahasiswa malah banyak menyorot acara-acara ecek di kampusnya saja. Saya memang tidak punya data solid tentang hal ini, tapi sepengamatan saya, pers mahasiswa sudah melemah. Mereka tak lagi memikirkan opsi lain untuk mahasiswanya. Mahasiswa menjadi kelompok pinggiran dan paling bawah di dalam hirarki kampus saat ini. Misalnya, dengan adanya dua fenomena kebijakan kampus saya yang me-anak-tirikan mahasiswa. Pertama, soal kebijakan program SKKM yang dirasa tidak membantu perkembangan mahasiswa, melainkan menjadikan mahasiswa hanya bisa duduk manis dan berpikir seolah-olah dunia di sekitarnya tenang-tenang saja. Kedua, soal kebijakan program kampus hijau. Saya ingin menekankan hal ini ribuan kali, saya mendukung aksi kampus hijau, tapi saya memrotes kebijakannya yang parsial. Di dalam kebijakan itu, kampus menuliskan pelaku dan target utama yang harus mengikuti keinginan kampus hanyalah mahasiswa semata. Ini yang membuat saya geram sekaligus kecewa.

Kekecewaan saya tak berhenti sampai itu. Badan eksekutif di kampus pun lamban menanggapi peristiwa ini. Mereka lagi-lagi tidak memberikan kabar solutif kepada mahasiswa. Fenomena ini yang membuat saya berpikir, pers mahasiswa menjadi satu-satunya opsi jalan terbaik untuk mengekspresikan kekecewaan kita. Tapi nyatanya, tidak. Pers mahasiswa di kampus saya makin lama makin lembek dan hambar. Pers mahasiswa yang saya geluti selama tiga tahun pun mulai kehilangan arah dan retak perlahan. Tulisan-tulisan yang muncul di portal mereka sudah tak asyik dan seru dibaca. Bahkan tak ada nilainya. Mengapa? Kok bisa begitu? Itu yang terlintas di benak saya. Sepengetahuan saya ketika bersama pers mahasiswa, suara mahasiswa kuat, karena di dalam pers mahasiswa itu pun kuat. Pers mahasiswa itu sekarang bahkan jauh dari kata layak. Rasanya pers mahasiswa hanya menjadi tempat nongki anak-anak yang numpang untuk cerita rasa kesepiannya. Agar punya teman banyak dengan embel-embel anak pers. Maaf kalau menyinggung.. tapi coba ingatkan saya, bagian mana yang salah.

Pers mahasiswa sekarang sudah mulai meredup dan hidup sebagai penyalur siaran pers acara-acara yang menjadi media partner-nya. Konyol, sih. Tapi itu mungkin kenyataan yang harus kita pahami. Media juga hidup dari iklan dan pihak-pihak lain.

Dandhy Dwi Laksono, Ketua Watchdoc pernah berbagi cerita ke saya, pers mahasiswa ketika ia kuliah itu sangat kuat dan tidak mudah terintervensi. Bahkan ketika ia harus mengulang-ulang satu mata kuliah berkali-kali karena tulisannya yang kritis terhadap kampus, itu tidak melemahkannya. Dandhy bilang kepada saya, “sesusah-susahnya karena finansial atau tekanan kampus, pers mahasiswa tetap harus independen.” Saya sangat setuju dengan itu. Walaupun kata “independen” di sana masih terkesan rancu. Namun saya asumsikan, pers mahasiswa harus tetap berdiri dengan kakinya sendiri. Intervensi sebesar apapun dari pihak kampus, pers mahasiswa harus tetap bisa berdiri sejajar dengan suara mahasiswa. Karena hanya pers mahasiswa yang bisa menolong suara-suara kecil di garis bawah hirarki kampus.

Oleh: Annisa Meidiana

Foto: https://storify.com/MLL/freedom-of-press

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s