Pagi ini saya merasa tidak nyaman untuk ke sekian kalinya ketika naik kereta jurusan Tangerang-Duri, gerbong khusus wanita. Kalau hanya berdesakkan, itu sudah wajar, apalagi kereta jurusan Tangerang-Duri dan arah sebaliknya, sudah terkenal seperti itu. Bukan karena berdesakkan yang berlebihan, atau kereta tertahan lama sehingga saya merasa tidak nyaman. Melainkan karena suasana di dalam gerbong khusus wanita yang mulai terasa seperti di pasar.

Atmosfer di dalam gerbong khusus wanita sudah berubah drastis ketika kereta berjalan. Seketika jadi banyak orang yang bertransaksi jual-beli, makan bekal sarapannya, minum karena haus, dan riuh suara bersautan antara si A ke si Z, si B ke si O, atau bahkan si A ke si B. Saya yang tiap hari belum tentu dapat tempat duduk, terpaksa harus berdiri. Karena situasi yang ramai seperti di pasar, saya merasa sangat tidak nyaman dan terganggu.

Mungkin karena saya kelelahan atau masih mengantuk. Mungkin saya sedang tidak bertenaga tiap paginya. Anehnya, karena hal itu saya jadi dapat merasakan semua ketika melihat segelintir orang bertingkah “tidak sopan”, seperti makan-minum, berjualan, dan bicara terlalu keras hingga lagu yang saya dengarkan lewat handset saya tidak terdengar lagi.

Pagi saya jadi tidak mengesankan. Saya harus mengonsumsi pemandangan seperti itu setiap hari. Luar biasa..

Saya tidak bilang kalau berjualan itu salah. Namun sikon dan tempat yang tidak pantas dijadikan sebagai tempat berjualan. Akibatnya, transportasi umum yang seharusnya memberikan kenyamanan dan keamanan selintas jadi hilang karena peristiwa seperti itu. Transportasi umum yang menawarkan fasilitas elit, seperti gerbong bersih, saluran udara tidak bau, dan rasa tentram kepada para pengguna kereta jadi gagal terealisasikan.

Memang tiket Commuter Line hanya IDR 3,500 saja. Tapi haruskah para penggunanya bersikap “barbar”? Saat petugas tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, protes dan kritik banyak dilontarkan. Namun sayangnya, mental dan tabiat para pengguna masih “sayur” banget! Bisakah kita mendiskusikan “kebarbaran” dan “kesayuran” ini bersama? Apakah ada solusi cemerlangnya?

Biarkan saya berpikir, dan kalian boleh mengkritik saya…

Bagaimana bisa terealisasikan campaign budidayakan membaca di dalam gerbong kereta, ketika setiap hari pemandangan pasar selalu ada dan orang-orang yang suka berdesakkan? Ironis memang.. Ada banyak orang yang perhatian, lalu menciptakan kebijakan yang bijak ataupun campaign sosial yang luar biasa antimainstream. Tapi sekali lagi, selamat tinggal semua keelitan itu, karena itu semua hanya wacana semata.

Ingatkan saya kalau sudah kelewatan.. tapi janjikan saya pula kenyamanan naik transportasi umum..

 

Penulis: Annisa Meidiana

Gambar: @CommuterLine

 

Advertisements