Ajang olimpiade se-Asia yang diselenggarakan empat tahun sekali, Asian Games, akhirnya berhasil digelar di Indonesia pada 2018 ini. Rangkaian acara dari berbagai cabang olahraga berjalan dengan lancar, bahkan ajang ini hampir mendekati penghujung. Acara penutupan akan dilakukan pada Minggu, 2 September 2018 nanti, di Main Stadium Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Asian Games di Indonesia ini terbilang sukses karena banyak mendapatkan respon positif dari berbagai negara dan kalangan dunia. Setelah aksi heroik Joko Widodo pada saat upacara pembukaan, pandangan publik terhadap negeri ini mulai berubah, dalam konteks yang sangat positif. Namun sayangnya, hal tersebut tidak terlihat lagi setelah banyaknya pemberitaan yang jauh dari kata pantas.

Hal yang sangat tidak mungkin jika media-media dalam dan luar negeri tidak meliput acara besar se-Asia ini. Apalagi media si “tuan rumah”, Indonesia. Pasti akan banyak berita mengenai perjalanan acara, hasil pertandingan, hingga profil atlet-atlet yang berpartisipasi.

Miris ketika melihat pemberitaan tentang Asian Games dari sumber media si “tuan rumah”. Bagaimana tidak, lebih dari satu berita yang berunsur objektivitas, degradasi, bahkan tidak meng-cover dengan kaidah jurnalistik.

Misalnya seperti pemberitaan dari Wolipop, yang tidak sengaja saya lihat di timeline media sosial Magdalene Indonesia.

Untitled

Sumber berita

Contoh dari berita di atas, saya melihat jelas ada unsur objektivitas di sana. Objektivitas dalam keilmuan dapat diartikan sebagai segala sesuatu hal dilihat secara empirik, atau yang telah diyakini seseorang akan kebenarannya. Hal/ objek tersebut dilihat dengan cara dimana tidak tergantung pada sesuatu di luar dari subjek itu sendiri. Seperti berita di atas, penulis hanya melihat objek pemberitaan secara empirik, lalu menyesampingkan fakta-fakta objektif lain sebagai sumber tulisannya.

Dari judul sendiri pun sudah terlihat bahwa penulis hanya ingin menggambarkan realitas yang ia ingin lihat. Penggunaan kalimat “Pamer Badan Kekar” saja sudah dirasa tidak pantas karena telah mengobjekkan sumber dan menihilkan fakta konkrit tersebut. Kalimat tersebut akan menimbulkan persepsi lain pada publik. Apa yang publik akan percaya setelah membaca itu? Apa yang publik konsumsi setelah membaca itu?

Hanya sebuah realitas yang ingin dilihat oleh sang penulis, bahkan sangat tidak objektif/ sangat beropini. Padahal penulis bisa memberitakan dengan konteks dan fakta yang konkrit, seperti kemenangan Jonatan Christie setelah melewati long rally dari rival-nya, Chou Tien Chen, atau cover teknik bermain Jonatan Christie. Itu jauh lebih baik, bukan?

Lalu kalimat “Bikin Wanita ‘Menggila’..” di sini berunsur menurunkan derajat (degradasi) seorang wanita. Saya juga wanita. Apakah saya menggila setelah melihat badannya Jonatan Christie? Nggak juga. Saya nggak punya hasrat dengan laki-laki? Kata siapa? Kalian itu sok tahu. Nggak semua laki-laki bisa bikin saya gila, apalagi dengan hanya karena momen pamer badan atau buka baju di lapangan. Berita tersebut sebenarnya sudah menyinggung saya sebagai seorang wanita. Dengan menyebut wanita saja sudah terasa tidak pantas. Semua isi berita di atas itu memang tidak pantas.

Berita sejenis “Momen Jonatan Christie Pamer Badan Kekar Bikin Wanita ‘Menggila” itu dirasa sangat tidak diperlukan, apalagi menjadi konsumsi publik. Memang, media daring saat ini melakukan berbagai jurus jitu untuk menggaet publik. Salah satu jurusnya adalah click bait. Jurusnya mudah, media-media daring akan gencar memunculkan judul-judul aneh nan menggiurkan. Tapi apakah harus dengan mendegradasikan, mengobjektivitaskan, dan menghilangkan fakta konkrit yang membangun demi sebuah click bait? Miris sekali, bukan?

Jenis pemberitaan dengan click bait memang memiliki kesinambungan. Kesinambungan ini yang menjadi kecemasan saya terhadap masa depan media, terutama media daring dan media sosial. Sebenarnya bukan hanya saya yang memiliki kecemasan seperti ini, tapi semua orang. Bahkan dengan menutup mata, kita semua bisa tahu bahwa itu sudah sangat miris dan butuh perbaikan. Namun, ya… hidup bergantung dengan uang. Media butuh uang juga. Eh, itu persoalan lain yang mungkin ada hubungannya dengan tulisan ini, tapi tidak perlu saya jelaskan karena bisa panjang banget.

In short, berita di atas merupakan salah satu dari ribuan berita tentang Asian Games 2018 yang menghilangkan kaidah jurnalistik, seperti terlalu banyak beropini, objektivitas subjek/ sumber berita, degradasi, dan berunsur sexism. Ini sebuah peristiwa ironik dan sangat miris karena harus terjadi pada media-media di Indonesia. Padahal saya percaya kalau media-media di Indonesia bisa jauh lebih baik dari membuat berita seperti itu.

Cheerio!

Advertisements